Wisuda X STAI Al Hidayah Tasikmalaya Cetak 96 Sarjana Unggul dan Tafaqquh Fid-Dien
TASIKMALAYA — Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Tasikmalaya sukses menyelenggarakan Sidang Senat Terbuka Wisuda X yang bertempat di Grand Metro Hotel Tasikmalaya pada 28 September 2026. Momentum bersejarah ini menjadi saksi kelulusan 96 sarjana baru yang siap berkontribusi secara nyata bagi kemajuan masyarakat, bangsa, dan dunia pendidikan Islam.
Rincian lulusan sarjana yang diwisuda pada periode ini mencakup tiga program studi:
- Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini sebanyak 43 lulusan.
- Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir sebanyak 32 lulusan.
- Program Studi Pendidikan Bahasa Arab sebanyak 21 lulusan.
Acara dihadiri unsur Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP Persis), perwakilan Kopertais Wilayah II Jawa Barat, dosen, para orang tua dan keluarga wisudawan, dan tamu undangan lainnya.
Penyelenggaraan wisuda ke-10 ini mempertegas langkah institusi dengan semangat Unggul, Islami, Tafaqquh Fid-dien menuju pengembangan kelembagaan. Melalui bekal kurikulum keilmuan yang kokoh dan penanaman nilai moral, para lulusan diharapkan dapat hadir menjadi pendidik berdedikasi, akademisi yang mumpuni, serta pegiat dakwah yang tangguh di era global.
Ijazah Bukan Tanda Selesai Belajar
Dalam sambutan atas nama PP Persis, Dr. Darwis, M.Pd. mengingatkan bahwa ijazah menandai selesainya satu tahap pendidikan, bukan berakhirnya proses belajar. Menurutnya, kehidupan yang sesungguhnya, yakni “universitas kehidupan”, baru dimulai setelah seseorang meninggalkan bangku kuliah.
Ia juga berpesan agar para lulusan tidak kehilangan sikap tawadhu meski memiliki banyak ilmu. Ilmu yang luas, menurutnya, seharusnya membuat seseorang semakin rendah hati.
Siap Hadapi Perubahan, Jangan Jadi Residu Peradaban
Wakil Koordinator Kopertais Wilayah II Jawa Barat, Prof. Dr. Hj. Aan Hasanah, M.Ed., menekankan bahwa perguruan tinggi membekali mahasiswa dengan proses berpikir (thinking process). Dengan bekal itu, alumni diharapkan mampu menyelesaikan persoalan-persoalan kompleks di masyarakat.
Ia mengajak para wisudawan memaknai pengabdian ilmu sebagai “jihad akademik”. Ia juga meminta mereka membekali diri menghadapi perubahan zaman yang berlangsung cepat agar tidak menjadi residu peradaban. Kemampuan beradaptasi, ujarnya, harus terus dilatih. Dengan begitu, alumni dapat mengambil bagian penting dalam pembentukan peradaban.
Dengan lahirnya 96 sarjana baru ini, STAI Al Hidayah Tasikmalaya berharap alumninya dapat berkiprah di bidang pendidikan, dakwah, dan pengabdian masyarakat, serta menjadi insan yang berilmu, berakhlak, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.