Sultan Alauddin, Raja Gowa yang Membuka Jalan Islam di Makassar
Oleh: Agung Gumilar, Lc., M.Pd.
(Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Arab STAI Al hidayah Tasikmalaya)
Bandung - Jauh sebelum Makassar dikenal sebagai salah satu dari sekian kota besar di Indonesia, kawasan ini telah menjadi pusat perdagangan penting di wilayah timur Nusantara. Pelabuhan Makassar menjadi tempat poros pertemuan para pedagang dari berbagai daerah, di antaranya Melayu, Arab, China, Portugis, dan bangsa-bangsa lainnya.
Di tengah geliat perdagangan yang ramai tersebut Islam mulai memperoleh tempat penting dalam kehidupan masyarakat di Kerajaan Gowa-Tallo. Salah satu tokoh penting dalam proses Islamisasi Gowa-Tallo tersebut adalah Sultan Alauddin, Raja Gowa ke-14 dan Penguasa pertama Gowa yang menerima Islam, dan menjadikannya sebagai agama resmi Kerajaan Gowa.
Pada awalanya Sultan Alauddin memiliki nama asli I Mangarangi Daeng Manrabbia. Ia lahir sekitar 1558 M dan wafat pada 15 Juni 1639 M. Ia merupakan putra Raja Gowa ke-12, Karaeng Tunijallo, dan kemudian menjadi Raja Gowa ke-14, setelah menggantikan kakak seayahnya yang bernama Tunipassulu. Sultan Alauddin memerintah sejak 1593 hingga 1639 M.

Gambar 1. Koin Emas Kupang Jinggara seberat 0,63 gram dari masa sultan Alauddin I dari Gowa, koin ini dicetak tidak lama setelah beliau masuk Islam pada 22 September 1605, dan menjadikannya sebagai agama resmi kerajaan Gowa. Dalam koin tersebut terbaca inskripsi “Sultan Ala’uddin” dan “Khaladallahu Mulkahu”. Dokumentasi Koleksi Numismatika Agung Gumilar tahun 2025.
Dari Raja Gowa Menjadi Sultan Alauddin
Ketika I Mangarangi Daeng Manrabbia naik takhta, Kerajaan Gowa telah berkembang menjadi salah satu kekuatan politik dan ekonomi penting di silayah Sulawesi Selatan. Gowa bersama Tallo membentuk aliansi politik yang kemudian dikenal luas sebagai Kerajaan Makassar atau Gowa-Tallo.
Pada masa tersebut, Islam sebenarnya bukan agama yang sama sekali asing bagi masyarakat Makassar. Hubungan perdagangan dengan kawasan Melayu dan dunia Islam telah membuka jalan bagi kedatangan para pedagang dan mubalig Muslim.
Peran penting dalam proses Islamisasi kemudian diperkuat oleh tiga tokoh pendakwah yang berasal dari Minangkabau yang datang ke wilayah Sulawesi Selatan pada awal abad ke-17 Masehi, ketiga tokoh tersebut dalam tradisi lontara masyarakat Sulawesi Selatan dikenal sebagai sebagai Datuk Tellue atau tiga datuk. Mereka adalah Datuk ri Bandang (Abdul Makmur/Khatib Tunggal), Datuk ri Pattimang (Khatib Sulung), dan Datuk ri Tiro (Khatib Bungsu). Di wilayah Gowa sendiri, tokoh yang paling menonjol dalam dakwah Islam adalah Datuk ri Bandang. Ia berperan dalam memperkenalkan dan mengajarkan Islam kepada lingkungan istana Gowa-Tallo.
Raja Tallo Lebih Dahulu Memeluk Islam
Satu hal penting yang sering terlewat dalam histografi tentang masuknya Islam ke Makassar adalah bahwa Sultan Alauddin bukan orang pertama dari lingkungan kerajaan Gowa-Tallo yang memeluk Islam.
Tokoh pertama adalah I Malingkang Daeng Manyonri, Raja Tallo sekaligus mangkubumi Kerajaan Gowa. Setelah memeluk Islam, ia memperoleh gelar Sultan Abdullah Awwalul Islam.
Menurut sejumlah sumber sejarah, penerimaan Islam oleh Raja Tallo dan Gowa berlangsung pada 9 Jumadil Awal 1014 H, bertepatan dengan 22 September 1605 M. Setelah itu, Setelah masuk Islam, I Mangarangi Daeng Manrabbia menggunakan nama Islam Sultan Alauddin.
Islam Menjadi Agama Resmi Kerajaan
Masuk Islamnya Sultan Alauddin bukan sekadar perubahan keyakinan pribadi. Keputusan tersebut kemudian membawa perubahan besar dalam kehidupan politik dan sosial Kerajaan Gowa.
Pada 9 November 1607 M, Sultan Alauddin mengeluarkan keputusan yang menjadikan Islam sebagai agama resmi kerajaan dan mendorong penyebaran Islam kepada masyarakat Gowa-Tallo. Sumber-sumber sejarah menyebut keputusan ini sebagai salah satu tonggak penting Islamisasi Gowa.
Pada masa inilah proses Islamisasi masyarakat Makassar semakin kuat. Para ulama memperoleh ruang yang lebih luas untuk mengajarkan agama, sementara kehidupan kerajaan mulai diselaraskan dengan nilai-nilai Islam.
Salah satu momentum penting terjadi pada 9 November 1607, ketika masyarakat Gowa-Tallo mulai melaksanakan kehidupan keagamaan Islam secara lebih terbuka. Tradisi sejarah mencatat pelaksanaan salat Jumat di Somba Opu sebagai salah satu simbol penting semakin mengakarnya Islam di wilayah tersebut.

Gambar 2. Benteng Somba Opu, pusat pemerintahan dari kesultanan Gowa yang didirikan oleh Sultan Alauddin I. Dokumentasi Wikimedia
Dari Makassar Islam tersebar ke seluruh wilayah Sulawesi Selatan
Setelah Islam diterima oleh penguasa Gowa-Tallo, Makassar tidak hanya menjadi pusat perdagangan, tetapi juga berkembang sebagai salah satu pusat dakwah dan penyebaran Islam di Sulawesi Selatan.
Sultan Alauddin dan para ulama kemudian mendorong penyebaran Islam ke kerajaan-kerajaan Bugis di sekitarnya. Dalam proses berikutnya, sejumlah kerajaan-kerajaan Bugis menerima Islam, di antaranya: kerajaan Soppeng menerima Islam sekitar 1609, kerajaan Wajo pada 1610, dan Bone pada 1611.
Penyebaran Islam tersebut tidak semata-mata dilakukan melalui kekuatan politik. Dakwah para ulama, hubungan perdagangan, hubungan pernikahan dan kekeluargaan antar kerajaan, serta interaksi antara masyarakat pesisir dan pedagang Muslim turut menjadi faktor penting dalam keberhasilan dakwah Islam di Sulawesi Selatan.
Dengan demikian, Makassar menjadi salah satu pintu utama perkembangan Islam di kawasan timur Nusantara.
Sultan Alauddin dan Politik Perdagangan
Keislaman Gowa juga berkembang dalam konteks perdagangan internasional. Pada masa itu, Somba Opu sebagai pusat kekuasaan dan perdagangan Gowa berkembang menjadi bandar yang ramai. Pedagang Melayu, Arab, Portugis, Spanyol, Inggris, Denmark, dan bangsa lainnya pernah berhubungan dengan kawasan tersebut.
Kondisi tersebut membuat Makassar memiliki posisi strategis dalam jaringan perdagangan Nusantara. Islam berkembang bersamaan dengan semakin intensifnya hubungan Gowa dengan dunia Melayu dan kawasan Muslim lainnya.
Karena itu, Islamisasi Makassar tidak dapat dipahami hanya sebagai kisah tentang seorang raja yang memeluk agama baru. Ia merupakan bagian dari proses yang lebih luas, yakni pertemuan antara perdagangan, dakwah, politik kerajaan, jaringan ulama, dan hubungan antarmasyarakat.
Warisan yang ditinggalkan
Sultan Alauddin wafat pada 15 Juni 1639 M setelah memerintah Gowa selama kurang lebih 46 tahun. Setelah wafat, ia dikenal dengan gelar Tumenanga ri Gaukanna.
Ia kemudian dikenang sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah Islam di Sulawesi Selatan. Dari masa pemerintahannya, Gowa-Tallo berkembang menjadi kerajaan Islam yang memiliki pengaruh besar dalam penyebaran Islam ke berbagai wilayah Sulawesi.
Warisan tersebut kemudian diteruskan oleh generasi berikutnya, termasuk Sultan Malikussaid dan putranya yang terkenal, Sultan Hasanuddin, yang kemudian menjadi salah satu tokoh paling masyhur dalam sejarah perlawanan terhadap VOC.
Dengan demikian, jika Sultan Hasanuddin dikenang sebagai “Ayam Jantan dari Timur” karena perjuangannya menghadapi VOC, maka Sultan Alauddin layak dikenang sebagai salah satu tokoh yang meletakkan fondasi kuat bagi berkembangnya Islam di Makassar dan Sulawesi Selatan.