Oleh: Agung Gumilar, Lc., M.Pd.
(Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Arab STAI Al hidayah Tasikmalaya)

Bandung - Sultan Sulaiman al-Qanuni merupakan salah satu penguasa paling penting dan terkenal dalam periode sejarah Kesultanan Turki Utsmani. Ia memerintah selama kurang lebih 46 tahun, dari tahun 1520 sampai 1566. Dalam literatur sejarah Barat, ia sering dikenal dengan nama Suleiman the Magnificent, sedangkan dalam tradisi Islam dan Turki ia dikenal sebagai Kanuni Sultan Süleyman.

gambar artikel

Gambar 1. Lukisan Sultan Sulayman al-Qanuni yang dibuat oleh pelukis kerajaan Utmaniyah bernama Nakkas Osman pada pertengahan abad ke-16 Masehi. Dokumentasi Musium Topkapi Turki dengan akses item Hazine. 1563, folio 47b

 

Masa pemerintahan Sultan Sulayman al-Qanuni sering dianggap sebagai salah satu babak penting  dalam periode sejarah perkembangan Kesultanan Utsmani. Wilayah kekuasaan Utsmani pada masa pemerintahannya menjadi yang terluas di antara kerajaan-kerajaan besar lain pada masanya lewat ekspedisi militer dan diplomasi, sehingga dapat dikatakan Turki Utmani menjadi negara super power dunia pada kurun abad ke-16, hal ini ditandai dengan sistem pemerintahan yang sangat teratur, armada maritim yang kuat dari mulai samudra atlantik hingga samudra hindia, perkembangan ilmu pengetahuan, seni, arsitektur, serta budaya dan dakwah Islam yang berkembang dengan sangat pesat.

Namun, perjuangan Sultan Sulaiman untuk perkembangan islam dan turki utsmani akhirnya berakhir dalam sebuah ekspedisi militer, bukan karena tebasan pedang musuh tetapi karena faktor usia renta yang dialami beliau. Pada tahun 1566, ketika usianya menginjak lebih dari 70 tahun, dalam kelemahannya ia masih memimpin pasukan mujahidin Utsmani dalam sebuah ekspedisi militer ke wilayah Hungaria untuk menghadapi kekuatan Habsburg yang mulai mengancam perbatasan Utsmani. Ekspedisi tersebut menjadi kampanye militer terakhir dalam catatan perjalanan hidupnya. Ia meninggal hanya sekitar satu hari sebelum benteng tersebut berhasil direbut oleh pasukan Utsmani.

 

Sultan Sulaiman dan Masa Tuanya

Sultan Sulaiman diangkat menjadi sultan pada tahun 1520 setelah ayahnya, yaitu Sultan Selim Yafuz wafat. Selama masa pemerintahannya, ia memimpin berbagai ekspedisi militer ke Eropa, Timur Tengah, dan kawasan lainnya.

Selain dikenal sebagai seorang penguasa dan pemimpin militer, Sulaiman juga terkenal karena perhatiannya terhadap hukum dan pemerintahan. Julukan al-Qanuni atau Kanuni berkaitan dengan perannya dalam penyusunan hukum “Qanun” pemerintahan Kesultanan Utsmani.

gambar artikel

Gambar 2.  Dinar emas/ altin Utsmaniyyah dicetak di Mesir atas nama sultan Sulayman Sah bin Salim Han tahun 926 H/1520 M dan ditemukan di situs Gampong Pande (Aceh) pada tahun 2013. Koleksi Agung G tahun 2026.

 

Memasuki usia tua, kondisi kesehatan Sulaiman mulai menurun. Meskipun demikian, ia tetap berusaha menjalankan tugasnya sebagai seorang sultan. Pada tahun 1566, ia bahkan kembali memimpin ekspedisi militer.

Keputusan tersebut menunjukkan kuatnya keinginan Sulaiman untuk tetap menjalankan tanggung jawabnya sebagai penguasa. Namun, perjalanan panjang dan berat menuju wilayah Szigetvár semakin membebani kondisi fisiknya. Sumber-sumber sejarah mencatat bahwa kesehatannya semakin memburuk selama ekspedisi tersebut.

 

Ekspedisi Terakhir ke Szigetvár

Pada 1 Mei 1566, Sultan Sulaiman meninggalkan Istanbul untuk memimpin ekspedisi militernya. Tujuan utama ekspedisi tersebut adalah menghadapi kekuatan Habsburg di wilayah Hungaria.

Pasukan Utsmani kemudian bergerak menuju Szigetvár. Pada 5 Agustus 1566, mereka tiba di sekitar benteng tersebut. Benteng Szigetvár dipimpin oleh seorang bangsawan dan komandan Kroasia-Hungaria bernama Nikola Šubić Zrinski atau dalam sumber Turki dikenal sebagai Zrinyi.

Pengepungan berlangsung sengit. Pasukan Utsmani secara bertahap berhasil menguasai bagian-bagian kota di sekitar benteng. Pada 13 Agustus, bagian kota lama berhasil direbut, kemudian kota baru juga jatuh pada 19 Agustus. Namun, benteng utama masih terus melakukan perlawanan.

Pada saat itu, Sultan Sulaiman sendiri sudah berada dalam keadaan sangat lemah. Ia tidak lagi mampu mengikuti seluruh kegiatan militer seperti ketika masih muda. Ia lebih banyak berada di dalam tenda kekaisaran yang didirikan tidak jauh dari medan pengepungan.

 

Wafat di Dalam Tenda

Pada malam menjelang 7 September 1566, keadaan Sultan Sulaiman semakin kritis. Ia akhirnya wafat di dalam tenda kekaisarannya di dekat Szigetvár.

Dalam sakaratul mautnya beliau sempat memanjatkan do’a kepada Allah s.w.t agar memberikan kemenangan kepada kaum muslimin yang akhirnya dikabulkan Allah s.w.t ketika salah satu meriam turki utsmani berhasil mengenai gudang mesiu pasukan musuh yang mengakibatakan kepanikan luar biasa dalam benteng pertahanan mereka.

Penelitian sejarah dan arkeologi modern menempatkan lokasi wafatnya berada di suatu kawasan yang sekarang dikenal sebagai wilayah Turbék, sekitar 4,5 kilometer dari Benteng Szigetvár. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa Sultan Sulaiman wafat antara pukul 1 dan 2 dini hari pada 7 September 1566. Dengan demikian, tanggal wafat Sultan Sulaiman yang umum digunakan adalah 7 September 1566.

Yang menarik adalah bahwa pada saat Sultan Sulaiman wafat, pasukannya masih belum mengetahui secara jelas bahwa pemimpin mereka telah wafat. Hal tersebut dilakukan dengan sengaja.

 

Mengapa Kematian Sultan Dirahasiakan?

Kematian seorang raja atau sultan di tengah-tengah peperangan merupakan persoalan yang sangat serius. Sultan bukan hanya seorang pemimpin pemerintahan, tetapi juga menjadi simbol utama kekuasaan dan persatuan.

Para pejabat Utsmani khawatir jika kabar kematian Sulaiman segera diketahui oleh seluruh pasukan, semangat mereka dalam berjihad akan menurun. Bahkan, keadaan dapat berubah menjadi kacau karena para tentara mengetahui bahwa pemimpin tertinggi mereka telah meninggal dalam peperangan yang belum selesai.

Karena itu, kematian Sultan Sulaiman dirahasiakan dari sebagian besar pasukan. Hanya orang-orang terdekat dan pejabat penting yang mengetahui keadaan sebenarnya. Bahkan, beberapa tindakan dilakukan untuk memberikan kesan bahwa sultan masih hidup dan masih menjalankan pemerintahan.

Cara ini mungkin terdengar aneh bagi pembaca masa sekarang. Namun, jika dilihat dari situasi perang pada abad ke-16, keputusan tersebut dapat dipahami sebagai strategi untuk menjaga stabilitas dan moral pasukan.

 

Benteng Szigetvár Jatuh Setelah Sultan Wafat

Ada sebuah peristiwa yang membuat wafatnya Sultan Sulaiman semakin dramatis.

Sultan wafat ketika pengepungan Szigetvár belum selesai. Tidak lama setelah itu, pada 7 September 1566, benteng tersebut akhirnya berhasil direbut oleh pasukan Utsmani. Dengan demikian, Sultan Sulaiman meninggal hanya berselang sehari sebelum kemenangan akhir di Szigetvár.

Setelah Sultan Sulaiman wafat, jenazahnya dipersiapkan agar dapat dibawa kembali ke Istanbul. Karena perjalanan menuju Istanbul cukup jauh dan kondisi cuaca pada saat itu tidak memungkinkan jenazah langsung dibawa dalam keadaan biasa, dilakukan proses pengawetan sementara terhadap jenazah sang sultan.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa bagian organ dalam jenazah dipisahkan dan dimakamkan di sekitar lokasi wafatnya, sementara jenazah utama dibawa kembali menuju Istanbul. Namun, mengenai detail organ mana yang dimakamkan di Szigetvár terdapat perbedaan dalam sumber sejarah. Bahkan sebagian sejarawan mencatat bahwa klaim mengenai penguburan organ dalam di Szigetvár berasal dari sumber yang lebih kemudian dan kisah ini masih diperdebatkan oleh peneliti.

Di Istanbul, jenazah sultan Sulayman dimakamkan di wilayah kompleks Masjid Süleymaniye, salah satu kompleks masjid monumental dati era Utsmaniyyah yang dibangun atas perintahnya. Beliau dikebumikan  tidak jauh dari makam istrinya, Hürrem Sultan.

Dalam catatan sejarah dinyatakan bahwa sebelum beliau wafat, beliau sempat berwasiat untuk dikuburkan bersama sebuah kotak pribadi milikya, syeikhul islam pada masa tersebut dipegang oleh Ebussud Efendi sempat menolak wasiat tersebut karena ditakutkan kotak tersebut berisi harta benda duni yang diharamkan bagi seorang muslim untuk dikuburkan bersamanya, tetapi setelah diperiksa, isi kotak tersebut adalah sejumlah fatwa para ulama yang menjadi dasar rujukan sultan Sulayman dalam mengambil keputusan baik dalam urusan agama, militer, dan pemerintahan sebagai bentuk tanggung jawab beliau pada kaum muslimin.

 

Wafatnya Sultan Sulaiman dan Pergantian Kekuasaan

Kematian Sultan Sulaiman juga menandai berakhirnya sebuah era panjang dalam sejarah Utsmani. Sulaiman telah memerintah selama sekitar 46 tahun. Setelah kematiannya, kekuasaan kemudian beralih kepada putranya, Sultan Selim II. Bagi sejarah Utsmani, wafatnya Sulaiman bukan sekadar kematian seorang raja. Peristiwa tersebut menjadi simbol berakhirnya satu generasi kepemimpinan yang telah membawa Kesultanan Utsmani mencapai salah satu puncak kejayaannya.

 

Pelajaran dari Wafatnya Sultan Sulaiman

Kisah wafat Sultan Sulaiman memberikan beberapa pelajaran penting.

Pertama, kisah ini menunjukkan kuatnya rasa tanggung jawab seorang pemimpin. Meskipun keadaan sultan Sulayman telah mencapai masa uzur serta kesehatannya menurun, sang sultan tetap berusaha menjalankan tugas dan amanahnya sebagai pemimpin.

Kedua, peristiwa ini menunjukkan pentingnya kepemimpinan dalam situasi krisis. Para pejabat Utsmani harus mengambil keputusan sulit ketika sultan wafat di tengah peperangan. Menyembunyikan berita kematian untuk sementara waktu merupakan salah satu strategi mereka untuk mencegah kepanikan pasukan.

Ketiga, sejarah Sulaiman mengingatkan bahwa sebuah kemenangan seringkali membutuhkan pengorbanan. Pasukan Utsmani memang berhasil merebut Szigetvár, tetapi kemenangan tersebut terjadi bersamaan dengan kehilangan pemimpin terbesar mereka.

 

Penutup

Sultan Sulaiman al-Qanuni wafat kembali ke Rahmatullah pada 7 September 1566 di tengah ekspedisi militer terakhirnya di Szigetvár, Hungaria. Ia meninggal di dalam tenda kekaisarannya ketika pasukan Utsmani masih berjuang merebut benteng tersebut.

Kematian sang sultan sengaja dirahasiakan untuk menjaga semangat pasukan. Tidak lama kemudian, Szigetvár berhasil direbut oleh pasukan Utsmani. Jenazah utama Sultan Sulaiman kemudian dibawa kembali ke Istanbul dan dimakamkan di kompleks Masjid Süleymaniye.

Wafatnya Sultan Sulaiman merupakan salah satu peristiwa paling dramatis dalam sejarah Kesultanan Turki Utsmani. Ia meninggal di medan ekspedisi, tetapi warisannya terus hidup dalam sejarah. Namanya tidak hanya dikenang karena keberhasilan militer, tetapi juga karena perannya dalam pemerintahan, hukum, seni, arsitektur, dan perkembangan peradaban Utsmani.

Dengan wafatnya Sultan Sulaiman, berakhirlah salah satu bab terpenting dalam sejarah Kesultanan Turki Utsmani. Namun, sejarahnya tetap menjadi bagian penting dari perjalanan panjang peradaban Islam dan dunia pada abad ke-16.

 

Daftar Referensi Pilihan

Peker, A. U., Başak, M. Ö., Deveci, A., Uzun, M. C., Sertel, S., Pap, N., & Hancz, E. (2019). Zigetvar Kanunî Sultan Süleyman Türbe-Palankası’nda araştırma ve arkeolojik çalışmalar 2015–2017. Akdeniz Sanat, 13.

Türkiye Diyanet Vakfı. (n.d.). Süleymaniye Camii. TDV İslâm Ansiklopedisi.

Türkiye Diyanet Vakfı. (n.d.). Sigetvar. TDV İslâm Ansiklopedisi.

World History Encyclopedia. (n.d.). Suleiman the Magnificent.

Pap, N., Hancz, E., & Peker, A. U. (2023). Historical and archaeological data for integrated environmental historical analyses on the moat profile of the türbe complex of Sultan Suleiman I at Szigetvár – Turbék Wineyard Hill Site.