Kelahiran dan Masa Muda

Muawiyyah bin Abi Sufyan dilahirkan di kota Mekah pada tahun 602 Masehi, lima tahun sebelum kenabian Muhammad SAW. Ia berasal dari Bani Umayyah, salah sayu cabang suku Quraisy yang terpandang selain Bani Hasyim dan Bani Kinanah. Ayahnya, Abu Sufyan bin Harb merupakan seorang pemuka Quraisy yang pada awalnya gigih menentang Islam. Ibunya, Hindun binti Utbah, terkenal keras dan sempat memakan hati Hamzah paman Nabi saat Perang Uhud. Sebelum kedua orangtuanya masuk Islam pada saat peristiwa Fathu Makah pada tahun ke-8 Hijriyyah/ 630 Masehi, Muawiyyah telah terlebih dahulu masuk Islam setahun sebelumnya, yaitu pada peristiwa al-Qadhiyyah (qadha Umrah Rasulullah S.A.W) DI tahun ke-7 Hijriyyah/629 Masehi.

Mata uang Dirham Perak Arab-Sasanian

Gambar 1. Mata uang Dirham Perak Arab-Sasanian dari masa pemerintahan Muawiyyah bin Abi Sufyan dengan penambahan aksara Arab “Bismillahi Rabbi” dan cap Tamgha dari bangsa Hun Turki, dicetak di Sijistan (moderen Zaranj, perbatasan Iran-Afganistan) pada tahun 48 Hijriyyah/668 masehi. Koleksi Agung Gumilar (Indonesia) tahun 2026.

 

Muawiyyah kecil tumbuh dalam lingkungan aristokrat yang menjunjung tinggi kepemimpinan, diplomasi, dan strategi politik. Sebelum masuk Islam, ia dikenal cerdas, sabar, dan piawai bermusyawarah.

 

Masuk Islam dan Karier Awal

Meskipun catatan sejarah secara umum menyebutkan bahwa Muawiyyah baru masuk Islam Bersama-sama ayah dan kakaknya (Yazid) pada peristiwa Fath Makah di tahun 8 H (630 M), akan tetapi sebetulnya ia telah memeluk islam setahun sebelumnya, hal ini dikuatkan dengan sebuah riwayah yang menyatakan bahwa ia telah masuk islam sebelum peristiwa Fathu Makah, serta memiliki kedudukan spesial yang diberikan Rasulullah S.A.W kepada Muawiyyah yang tentu saja tidak didapatkan oleh kalangan sahabat yang baru memeluk Islam setelah peristiwa Fathu Makah  (ad-zahabi, 3:120)

Selain kecerdasan yang dimiliki oleh Muawiyyah, Nabi S.A.W juga menyukai kemampuan menulisnya yang pada saat itu masih jarang dimiliki oleh orang Arab, karena itulah kemudian Muawiyyah diangkat sebagai salah satu juru tulis Rasulullah S.A.W merangkap juru pencatat wahyu (meski status pencatat wajyu tersebut masih  diperdebatkan sebagian ulama). dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah s.a.w mendoakan Muawiyyah dengan do’a khusus

عن عبد الرحمن بن أبي عُمَيرة رضي الله عنه، عن النبي صلى الله عليه وسلّم أنه قال لمعاوية":اللهم اجعله هادياً مهديًّا، واهدِ به (رواه الترمذي رقم  (3842

wafatnya Rasulullah pada tahun 11 Hijriyyah, Muawiyyah turut serta dalam sejumlah front seperti: Harbu Riddah (memerangi orang murtad) serta Futuhat Syam (penaklukan Syiria) di masa Abu Bakar serta Umar bin Khattab. Keahlian militernya menonjol dalam Perang Yarmuk (636 M) melawan Romawi Timur.

 

Gubernur Syam dan Puncak Kekuasaan

Pada periode pemerintahan Khalifah Umar, Muawiyyah diangkat sebagai Amir Yordania, lalu diperluas oleh Utsman bin Affan (sepupunya) menjadi Amir seluruh wilayah Syam (651 M). Selama 20 tahun, ia membangun basis kekuatan luar biasa, di antaranya adalah: memperbaharui kekuatan Naval (angkatan laut) yang sebelumnya diasaskan oleh Ustman bin Affan, merebut pulau Siprus, serta menjadikan Syam sebagai provinsi paling makmur dari seluruh provinsi yang ada dalam naungan pemerintah Rashidun.

Koin Fulus Tembaga Arab-Byzantine

Gambar 2. Koin Fulus Tembaga Arab-Byzantine (Psudeo-Byzantine) diperkirakan dicetak di Syiria di bawah kepemimpinan Gubernur Muawiyyah (periode Khulafa Rasyidin, transisi pemerintahan antara Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib). Sumber: Dok. Koleksi Agung G (Indonesia) Tahun 2020

Pasca terbunuhnya Utsman bin Affan (656 M) serta peristiwa Perang Jamal, Muawiyyah menolak membaiat Ali bin Abi Talib sebelum tuntutan yang ia minta dikabulkan Ali bin Abi Thalib, yaitu menghukum qisash (hukum mati) bagi seluruh orang yang turut serta dalam pembunuh Utsman. Puncak dari permasalahan ini adalah terjadinya Perang Shiffin (657 M), yang berakhir dengan tahkim (arbitrase), sebuah titik balik yang melahirkan golongan Khawarij.

Tahun 661 M, setelah Ali wafat dibunuh Khawarij, Muawiyyah berhasil menduduki posisi khalifah serta mengasaskan berdirinya Dinasti Umayyah dengan menjadikan kota Damaskus sebagai pusat pemerintahannya.

 

Keunggulan Muawiyyah

Muawiyyah memiliki sejumlah keunggulan, di antaranya adalah:

  1. Kecerdasan Politik dan Diplomasi Dijuluki “penyamun Quraisy” (bukan makian, melainkan pujian Arab untuk kelicikan strategis). Ia mampu mengakhiri fitnah besar dengan cara diplomasi, bukan perang total.
  2. Pendiri Kekuatan Maritim Islam Armada laut Islam pertama dibangunnya, berhasil mengalahkan Romawi dalam Pertempuran Dzatus Sawari (655 M).
  3. Kesabaran dan Pengendalian Diri
  4. Sistem Administrasi: Membentuk diwan khatam (kantor pos), mencetak mata uang sendiri yang masih mengikuti pola Romawi dan Persia dengan menambahkan Bismillah, dan menerjemahkan sistem perpajakan Romawi-Persia yang efisien.
  5. Perluasan Wilayah Menaklukkan Kairouan (Afrika Utara), Khurasan (Asia Tengah), Sijistan (afgansitan-pakistan modern), dan terus menekan Romawi hingga Anatolia.

 

Kelemahan dan Kontroversi

  1. Pelanggaran Perjanjian dengan Hasan bin Ali
    Setelah Hasan menyerahkan kekhalifahan demi persatuan umat, Muawiyyah dalam praktiknya tidak sepenuhnya menjalankan syura, melainkan mewariskan kekuasaan kepada putranya, Yazid — yang dinilai oleh Ahlus Sunnah sebagai penyimpangan dari sistem khilafah.
  2. Permusuhan terhadap Ali dan Keturunannya
    Meski tidak secara langsung mengkafirkan Ali, kebijakannya melanjutkan kutukan atas Ali di mimbar-mimbar (sunnah Muawiyyah) yang baru dihapus oleh Umar bin Abdul Aziz.
  3. Penggunaan Amr bin Ash dan Muawiyah yang cenderung licik
    Dalam Perang Shiffin, ia mengangkat mushaf Al-Qur’an untuk menghentikan serangan Ali — taktik yang dianggap manipulatif.
  4. Tidak Menunjuk Khulafaur Rasyidin secara Ideal
    Sistem monarki yang ia bangun mengakhiri masa khilafah yang demokratis (menurut konsep Ahlus Sunnah: khilafah rasyidah berakhir 30 tahun, lalu berubah menjadi kerajaan).

 

Kontribusi bagi Perkembangan Islam

Amir muawiya memiliki sejumlah kontribusi terhadap perkembangan islam, di antara sejumlah kontribusi tersebut adalah:

  1. Penyatuan Umat Pasca Fitnah: Mengakhiri perang saudara pertama (fitnah kubra) secara politik
  2. Melakukan Ekspansi pembebasan Besar-besaran: Islam menyebar ke Afrika Utara, Spanyol, India
  3. Administrasi Kekhalifahan: Mendirikan institusi negara yang bertahan selama 90 tahun (661-750 M).
  4. Pencatatan Arsip Negara: Memerintahkan pencatatan resmi arsip kekhalifahan sebagai cikal bakal sistem birokrasi Islam.

Makam Muawiyyah bin Abi Sufyan

Gambar 3. Makam Muawiyyah bin Abi Sufyan di Damaskus. Dok  Wikipedia commons 2025

 

Wafat

Muawiyyah wafat di Damaskus pada bulan Rajab tahun 60 H (Mei 680 M) dalam usia sekitar 78 tahun. Ia dimakamkan di Damaskus, dan setelahnya kekuasaan kemudian jatuh kepada putranya, Yazid bin Muawiyyah, yang kelak memicu tragedi Karbala (680 M) yang menyebabkan syahidnya Hussain bin Ali bin Abid Thalib dan sejumlah pendukungnya.

 

Penutup

Muawiyyah bin Abi Sufyan adalah figur kompleks: seorang sahabat Nabi, penulis wahyu, pembuka negeri, pendiri dinasti besar, namun juga tokoh yang diselimuti kontroversi politik. Dalam pandangan Ahlus Sunnah, ia tetap dihormati sebagai sahabat (meski banyak perdebatan mengenai sikapnya), sedangkan Syiah memandangnya sebagai penguasa zalim yang merebut hak Ali serta keturunannya. Terlepas dari itu, perannya dalam membangun peradaban Islam tidak dapat diabaikan, baik sebagai pelopor sistem birokrasi, diplomasi, maupun kekuatan maritim Islam.